Cara menangani anak hiperaktif

Belum diketahui apa penyebab pasti anak-anak menjadi hiperaktif. Namun, menurut dunia kedokteran, itu terkait dengan faktor biologis dan genetis, serta lingkungan. Anak yang hiperaktif sering diartikan sebagai anak-anak yang nakal. Pemahaman seperti itu tidak benar.baca berikutnya

Bila ada anak yang hiperaktif dan sulit berkonsentrasi itu berarti ada masalah pada otaknya. Kondisi hiperaktif ini disebut sebagai attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) yang merupakan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas. Masalah utama yang dialami penderita ADHD adalah sulit mengontrol hiperaktivitas, impulsivitas, dan kurang dapat memusatkan perhatian.

Menurut Dr Hardiono D Pusponegoro SpA(K), kepala Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), ADHD merupakan gangguan tingkah laku yang paling sering ditemui pada anak-anak. Prevalensinya sekitar 3-19 persen. ”Gejalanya mudah dikenali setelah anak bersekolah. Pada anak laki-laki kejadiannya tiga kali lebih sering dibandingkan perempuan. Alasannya belum jelas,” katanya pada diskusi masalah ADHD di Jakarta, beberapa waktu lalu.

ADHD pada anak-anak ini bisa terbawa sampai usia dewasa. Dari 50-60 persen anak dengan ADHD, gejalanya akan terus berlanjut hingga saat dewasa. Penyebab pasti belum diketahui. Namun, papar Hardiono, ada bukti bahwa faktor biologis dan genetis berperan dalam ADHD. Faktor biologis berpengaruh pada dua neurotransmiter di otak, yaitu dopamin dan norepinefrin.

Dopamin merupakan zat yang bertanggung jawab pada tingkah laku dan hubungan sosial, serta mengontrol aktivitas fisik. Norepinefrin berkaitan dengan konsentrasi, memusatkan perhatian, dan perasaan. Faktor lainnya yang berpengaruh adalah lingkungan. Karakter dalam keluarga juga dapat berperan menimbulkan gejala ADHD. Bahkan, dari penelitian di beberapa rumah tahanan, sebagian besar penghuninya ternyata pernah ADHD pada masa kecilnya. Demikian juga terjadi pada para pengguna narkoba.

”Selain masalah perilaku anak ADHD sering mengalami kesulitan dalam perkembangannya, seperti kesulitan bicara, mengungkapkan ide, atau emosi,’ ‘sambung Hardiono. Dr Ika Widyawati SpKJ dari FKUI mengatakan, jika tak didiagnosa sejak dini, ADHD dan gejalanya dapat menetap sampai usia remaja dan dewasa. Berdasarkan penelitian, orang tua yang mengidap ADHD akan mengalami stres yang tinggi karena mereka merasa seolah-olah dikucilkan teman-temannya. Mereka juga akan merasa depresi, rendah diri, lalu tergantung pada alkohol, dan akhirnya bisa terancam masalah perceraian.

Sesudah sekolah
Ika mengungkapkan, terapi bagi penderita ADHD ditujukan untuk mengurangi perilaku yang mengganggu, memperbaiki prestasi sekolah dan hubungan dengan lingkungannya, serta lebih mandiri di rumah dan di sekolah. ”Di samping itu, terapi ditujukan untuk meningkatkan kepercayaan diri anak dan perilaku yang lebih aman di komunitas.”

Saat dilaksanakan terapi Ika menyarankan keluarga penderita dilibatkan agar terapi dapat berlangsung dengan lebih efektif. Keterlibatan anggota keluarga lainnya dan guru sangat diperlukan dalam penanganan ADHD. Dalam hal ini dokter berperan sebagai edukator dan konsultan bagi penderita dan keluarga penderita. Terapi farmakologis dilakukan dengan cara mengontrol zat-zat yang ada dalam otak yang terlibat dalam ADHD. Pilihan utama terapi adalah obat dari golongan psikostimulan. Salah satunya adalah methylphenidate.

”Obat tersebut diberikan bila gejalanya cukup mengganggu, terjadinya hambatan fungsi sosial, edukasi, dan emosional. Dengan memberi obat terapi lain bisa lebih berhasil. Biasanya pengobatan diberikan sesudah jam sekolah,” ujar Ika. Berdasarkan penelitian, methylphenidate tepat dipakai sebagai pengobatan dan sudah digunakan lebih dari 40 tahun untuk ADHD. Efektivitas tinggi pada lebih dari 75 persen anak ADHD. Seminggu sejak pengobatan terjadi perbaikan tingkah laku dan memperbaiki produktivitas, akurasi, dan efisiensi. Pengobatan ini direkomendasikan oleh banyak kalangan dan yayasan yang menangani ADHD.

Mekanisme kerja methylphenidate adalah meningkatkan pelepasan dopamin dan noradrenalin di dalam otak. Zat tersebut juga memblokir masuknya kembali kedua neurotransmiter itu ke dalam otak. Saat ini methylphenidate dikembangkan dengan teknologi mutakhir yang disesuaikan dengan tingkat kebutuhan penderita ADHD dalam mengontrol kadar neurotransmiter. Salah satu teknologinya dengan OROS (osmotic release oral system).

Teknologi OROS terdapat pada obat yang diminum sekali sehari dan dapat bekerja efektif selama 12 jam. Obat ini disetujui oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) di bawah resep dokter dan ditujukan untuk anak berusia 6 tahun ke atas. Teknologi OROS yang diterapkan Janssen-Cilag PT Johnson & Johnson Indonesia pada produk methylphenidate berupa tablet dengan sistem pelepasan obat secara bertahap. Bagian luarnya terdiri dari methylphenidate lepas cepat yang berkerja segera setelah obat masuk ke lambung.

Menurut Dr Yanwar Hadiyanto dari Janssen-Cilag, pada teknologi ini, pada setiap tablet terdapat tiga kompartemen yang dibatasi oleh membran semipermeabel (dapat ditembus air – Red). Dua kompartemen berisi obat berkonsentrasi rendah dan konsentrasi tinggi, sedangkan kompartemen ketiga merupakan kompartemen pendorong.

”Saat tablet masuk ke saluran cerna, air akan masuk ke kompartemen pendorong dan mengembang sehingga mendorong isi obat ke luar. Di ujungnya ada lubang kecil yang dibuat dengan sinar laser. Teknologi ini menjamin kadar obat itu stabil dalam darah dan tak terganggu dengan ada atau tidaknya makanan di saluran cerna,” rinci Yanwar.

Pemberian obat secara bertahap membantu kontrol pada ADHD. Dosis yang diatur itu membantu mengatasi hiperaktivitas, impulsivitas, dan kurang konsentrasi pada pagi hari dengan obat dosis rendah hingga siang hari dalam dosis tinggi.

Tiga Gejala ADHD

1. Gangguan pemusatan perhatian (inattention) dengan ciri kurang dapat memusatkan perhatian, sering melakukan kesalahan akibat kecerobohan, kesulitan menerima pelajaran, sering gagal menyelesaikan tugas, perhatian mudah teralihkan, dan sering kehilangan barang-barang.
2. Hiperaktivitas dengan ciri sukar duduk diam, selalu tergesa-gesa, sering menggerak-gerakkan kaki dan tangannya, sering meninggalkan tempat duduknya di kelas, sulit bermain dengan tenang, serta berlebihan berbicara.
3. Impulsivitas (mudah terangsang). Cirinya adalah sulit untuk menunggu giliran, menjawab pertanyaan sebelum pertanyaan selesai diajukan, sering mengganggu teman, sering menginterupsi pembicaraan orang lain.

Berdasarkan gejala utamanya ADHD dibagi menjadi beberapa subtipe, seperti tipe dominan hiperaktivitas/impulsivitas, tipe dominan kurang perhatian, dan tipe campuran antara kedua tipe. Terapi ADHD dilakukan dengan beberapa cara, yaitu terapi farmakologi/medikasi, terapi perilaku, edukasi pasien dan keluarga, dan terapi kombinasi.

About these ads

11 Komentar

  1. rosita said,

    Februari 14, 2011 pada 1:21 pm

    saya punya anak umur 2 tahun 5 bulan, tp saampai saat ini belum bisa bicara , kalo di ajarkan terlalu cuek,, kurang memperhatikan orang bicara,, saya bawa kedokter katanya,, terkena gejala hiperaktif,,, apa ada obat ygg bisa di berikan u anak hiper aktif

  2. widi said,

    Juli 21, 2011 pada 9:54 am

    anak saya umur 5 tahun, sekarang TKb. anak saya punya watak yg kurang baik, sewaktu msh diplaygroup anak saya sangat protektif thd teman terdekatnya,sampai2 temannya itu tidak boleh bermain dg yg lain kecuali dengan anak saya itu.dan tidak segan2 barang siapa melanggarnya anak saya ini akan memukulnya.saya pikir setelah waktu berjalan dan pemberian pengertian kpd anak saya bahwa hal itu buruk untuk dilakukan, anak saya telah menjadi berbeda. ternyata baru2 ini saya mendapat 3 orangtua murid complain kpd saya -gara2 kelakuan lama anak saya itu lg- anak2 mereka pindah kelas krn tidak mau sekelas dgn anak saya. wah sedihnya hati saya, saat ini saya mencoba bersikap seadil dan senetral mungkin thd anak saya. disatu sisi saya ingin marah thd anak saya tp disatu sisi saya memposisikan diri saya pada anak saya.betapa kesepiannya anak saya ketika harus ditinggalkan oleh teman-temannya. ada soli yg efektif tidak ya untuk menangani anak saya ini?

  3. Oktober 7, 2011 pada 5:05 am

    Wow… Artikel yang menarik..
    Blognya juga keren..
    Salah satu cara menyelamatkan anak-anak
    Dari pengaruh-pengaruh yang kurang baik adalah…
    Melalui bidang PEndidikan dan Parenting
    Senang sekali ada orang yang peduli akan hal itu..
    Saya juga punya blog tentang anak-anak yang berisi:
    1. Lagu anak Pendidikan TK dan PAUD
    2. Dongeng Pendidikan Moral
    3. Tips Parenting
    4. Tips pendidikan kreatif
    5. Dan artikel2 menarik tantang dunia anak
    Silakan berkunjung ke http://LAGU2ANAK.BLOGSPOT.COM
    Salam kenal…Saya Kak Zepe. .
    Bila berkenan, mari bertukar link. 

    • ruslidjamik said,

      Juli 13, 2012 pada 6:06 pm

      ok, maksih kak zepe, boleh aja bertukar demi masa depan generasi bangsa

  4. dea said,

    Februari 24, 2012 pada 5:40 am

    Pusat Terapi dan Tumbuh Kembang Anak Rumah Sahabat Yogyakarta melayani terapi autism, terlambat bicara, ADHD, Down syndrom, musik, renang dengan terapi terpadu, speech terapi, sensori integrasi, terapi perilaku, fisioterapi dll. untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi Rumah sahabat di Perum Gambiran C 2 UH V, Jl Perintis Kemerdekaan Yogyakarta phone 0274 8267882

  5. nindy said,

    Juli 6, 2012 pada 12:48 am

    saya punya anak berusia 6 tahun,setelah memperhatikan postingan artikel diatas,saya bisa mendefinisikan anak saya mengalami ADHD,karena beberapa ciri-ciri diatas melekat pada anak saya,tolong saya bgm cara mendapatkan informasi tempat terapi untuk anak ADHD yang ada di wilayah makassar…

    • ruslidjamik said,

      Juli 13, 2012 pada 6:04 pm

      Pusat Terapi dan Tumbuh Kembang Anak Rumah Sahabat Yogyakarta melayani terapi autism, terlambat bicara, ADHD, Down syndrom, musik, renang dengan terapi terpadu, speech terapi, sensori integrasi, terapi perilaku, fisioterapi dll. untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi Rumah sahabat di Perum Gambiran C 2 UH V, Jl Perintis Kemerdekaan Yogyakarta phone 0274 8267882. terima kasih

  6. yanti said,

    Juli 12, 2012 pada 3:15 am

    anak sy umur 6, dia termasuk dalam 3 gejala ADHD, sy bingung sekali sampai2 tiap hari sy hrs bertengkar dan memarahinya dan jg terkadang memukulnya, itu sy lakukan agar dia jera tp ternyata tdk jera2 jg. kl hbs memukulnya dan memarahinya timbul penyesalan dihati sy.sy mhn bagaimana solusinya….sy sdh bingung hrs bagaimana mengatasinya.

    • ruslidjamik said,

      Juli 13, 2012 pada 6:03 pm

      Pusat Terapi dan Tumbuh Kembang Anak Rumah Sahabat Yogyakarta melayani terapi autism, terlambat bicara, ADHD, Down syndrom, musik, renang dengan terapi terpadu, speech terapi, sensori integrasi, terapi perilaku, fisioterapi dll. untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi Rumah sahabat di Perum Gambiran C 2 UH V, Jl Perintis Kemerdekaan Yogyakarta phone 0274 8267882

      • yanti said,

        Oktober 3, 2013 pada 1:27 am

        kl yg di jakarta ada ga?

      • ruslidjamik said,

        Oktober 3, 2013 pada 2:32 pm

        sy kurang tahu kl di jakarta


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: